Pedagang Pasar Tradisional Mulai Beralih ke QRIS, Transaksi Naik 40 Persen
Pasar Tradisional Mulai Beralih ke QRIS Pasar tradisional mulai bertransformasi di era digital. Para pedagang yang dulu hanya menerima uang tunai kini beralih ke sistem pembayaran digital. QRIS (Quick Response Code Indonesian Standard) menjadi pilihan utama mereka. Bank Indonesia mencatat lonjakan transaksi QRIS di pasar tradisional sepanjang kuartal I 2026. Angkanya naik 40 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.
Pedagang Sayur di Pasar Senen: “Pembeli Sekarang Banyak yang Tak Bawa Uang Tunai”
Sutini, pedagang sayur di Pasar Senen, Jakarta Pusat, mulai menggunakan QRIS sejak awal tahun ini. Awalnya ia ragu karena tidak paham teknologi. Namun, anaknya yang membantu mengajarkan cara menggunakannya.
“Anak saya yang ngajarin pakai QRIS. Sekarang saya sudah terbiasa. Pembeli tinggal scan, uang langsung masuk ke rekening,” ujar Sutini saat ditemui di lapaknya, Senin (20/4/2026).
Sutini mengaku omzetnya meningkat setelah menggunakan QRIS. Pembeli tidak perlu khawatir kehabisan uang tunai. Mereka juga tidak perlu menerima uang kembalian yang sering kotor atau robek.
“Dulu omzet sehari paling Rp700 ribu. Sekarang bisa tembus Rp1 juta. Banyak pembeli yang lebih suka bayar pakai QRIS,” tambahnya.
Pembeli: Lebih Praktis dan Aman
Rina, seorang pembeli setia Pasar Senen, mengaku senang dengan adanya QRIS. Ia tidak perlu lagi mengantre di ATM sebelum ke pasar. Cukup membawa ponsel, semua transaksi bisa ia selesaikan.
“Saya sering lupa bawa uang tunai. Kalau dulu pasti repot. Sekarang tinggal scan, selesai. Lebih praktis dan aman karena tidak perlu pegang uang banyak,” ujar Rina.
Ia juga merasa lebih aman karena tidak perlu khawatir dompetnya hilang atau dicopet. Transaksi digital meninggalkan jejak yang jelas. Jika terjadi kesalahan, ia bisa mengecek riwayat transaksi di aplikasi.
BI: Target 65 Juta Pengguna QRIS pada Akhir 2026
Bank Indonesia menargetkan 65 juta pengguna QRIS di seluruh Indonesia pada akhir 2026. Hingga Maret 2026, jumlah pengguna telah mencapai 55 juta. Artinya, masih ada 10 juta target yang harus dikejar dalam sembilan bulan ke depan.
Kepala Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran BI, Filianingsih Hendarta, menyatakan bahwa pasar tradisional menjadi fokus utama ekspansi QRIS.
“Pasar tradisional adalah tulang punggung perekonomian rakyat. Kami ingin memastikan para pedagang di sana tidak tertinggal dalam era digital. QRIS memudahkan mereka bertransaksi tanpa uang tunai,” ujar Filianingsih dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (15/4/2026).
BI juga menggandeng perbankan dan perusahaan fintech untuk mengedukasi pedagang pasar. Tim edukasi turun langsung ke pasar-pasar untuk mengajarkan cara menggunakan QRIS. Mereka juga membantu pedagang yang belum memiliki rekening bank untuk membuka rekening.
Baca juga: Proyeksi Ekonomi RI Beragam, ADB Optimistis 5,2% di Tengah Tekanan Global
Kendala di Daerah: Jaringan Internet dan Literasi Digital
Pasar Tradisional Mulai Beralih ke QRIS Meskipun perkembangannya pesat, penerapan QRIS di pasar tradisional masih menghadapi kendala. Di daerah terpencil, jaringan internet menjadi masalah utama. Sinyal yang tidak stabil membuat transaksi QRIS sering gagal.
Pedagang di Pasar Beringharjo, Yogyakarta, mengaku kesulitan saat jaringan internet sedang buruk. “Kadang pembeli sudah scan, tapi aplikasi tidak merespons. Jadi kami tetap harus siapkan uang tunai sebagai cadangan,” ujar Slamet, pedagang batik di pasar tersebut.
Kendala lain adalah literasi digital yang masih rendah. Tidak semua pedagang paham cara menggunakan QRIS. Beberapa dari mereka masih bergantung pada anak atau cucu untuk mengoperasikan ponsel.
Pemerintah daerah setempat berupaya mengatasi masalah ini. Mereka mengadakan pelatihan rutin bagi pedagang pasar. Mereka juga menyediakan jaringan Wi-Fi gratis di area pasar.
QRIS dan Program Satu Harga untuk Sembako
Pemerintah juga mengintegrasikan QRIS dengan program satu harga untuk sembako. Program ini bertujuan menjaga stabilitas harga bahan pokok di seluruh Indonesia. Melalui QRIS, pembelian sembako bersubsidi lebih mudah dipantau.
Menteri Perdagangan Budi Santoso menjelaskan bahwa QRIS membantu pemerintah melacak distribusi sembako. Setiap transaksi terekam secara digital sehingga data lebih akurat.
“Kami bisa melihat berapa banyak sembako bersubsidi yang terjual di setiap daerah. Data ini penting untuk mengevaluasi efektivitas program. Jika ada daerah yang kekurangan pasokan, kami bisa segera mengirim bantuan,” ujar Budi.
Program ini sudah berjalan di beberapa kota besar. Pemerintah menargetkan seluruh pasar tradisional di Indonesia akan terintegrasi dengan program ini pada akhir 2027.
Dampak Ekonomi: Meningkatkan Inklusi Keuangan
Penggunaan QRIS di pasar tradisional berdampak positif pada inklusi keuangan. Para pedagang yang sebelumnya tidak memiliki rekening bank, kini membuka rekening. Mereka juga mulai terbiasa dengan layanan keuangan digital.
Bank Mandiri mencatat peningkatan jumlah pedagang pasar yang membuka rekening tabungan. Hingga Maret 2026, lebih dari 2 juta pedagang pasar telah menjadi nasabah Bank Mandiri. Angka ini naik 25 persen dibanding akhir tahun lalu.
“QRIS menjadi pintu masuk bagi pedagang pasar untuk mengenal layanan perbankan. Setelah punya rekening, mereka mulai menabung. Beberapa bahkan mulai mengajukan pinjaman modal usaha,” ujar Direktur Utama Bank Mandiri, Darmawan Junaidi.
Hal serupa juga terjadi di Bank BRI. BRI mencatat peningkatan transaksi QRIS di pasar tradisional sebesar 45 persen. Sebagian besar pedagang yang menggunakan QRIS adalah nasabah BRI.
Pedagang Kecil Merasakan Manfaatnya
Pedagang kecil dengan omzet terbatas juga merasakan manfaat QRIS. Mereka tidak perlu lagi menyisihkan uang untuk membayar biaya sewa mesin EDC. Cukup dengan ponsel, mereka sudah bisa menerima pembayaran digital.
“Mesin EDC mahal. Sewa sebulan bisa ratusan ribu. Kalau QRIS, tidak ada biaya sewa. Cukup print kode QR, tempel di lapak, pembeli tinggal scan,” ujar Ahmad, pedagang bubur ayam keliling di Bandung.
Ahmad mengaku omzetnya meningkat setelah menggunakan QRIS. Pembeli tidak perlu repot mencari uang pas. Mereka cukup scan dan sarapan pun siap.
“Dulu saya jualan bubur ayam, banyak pembeli yang tidak jadi beli karena tidak punya uang pas. Sekarang mereka tinggal scan, jadi lebih banyak yang beli,” tambahnya.
Masa Depan Pasar Tradisional di Era Digital
Transformasi digital pasar tradisional tidak bisa dihindari. Para pedagang harus beradaptasi dengan perubahan ini. Jika tidak, mereka akan tertinggal oleh pesaing yang lebih modern.
Pemerintah berkomitmen mendampingi pedagang pasar dalam proses transformasi ini. Program pelatihan, subsidi perangkat, dan insentif bagi pedagang yang beralih ke digital terus digalakkan.
“Kami tidak ingin pasar tradisional mati. Kami ingin pasar tradisional naik kelas. Dengan digitalisasi, pasar tradisional bisa bersaing dengan toko modern. Pelayanan menjadi lebih cepat dan praktis,” ujar Menteri Perdagangan Budi Santoso.
Para pedagang pun menyambut baik program ini. Mereka menyadari bahwa digitalisasi adalah keniscayaan. Namun, mereka berharap pemerintah tidak melupakan aspek sosial dan budaya pasar tradisional.
“Pasar itu bukan hanya tempat transaksi jual beli. Pasar juga tempat interaksi sosial, tempat orang bertemu dan ngobrol. Jangan sampai digitalisasi membuat pasar kehilangan jiwanya,” pesan Sutini, pedagang sayur di Pasar Senen.
Dengan kolaborasi antara pemerintah, perbankan, dan pedagang, transformasi digital pasar tradisional diharapkan berjalan lancar. Pasar tradisional tetap menjadi pusat ekonomi rakyat yang modern, nyaman, dan berdaya saing.
